Terangnews.my.id / Kabupaten Bandung Barat – Suasana Aula Kecamatan Cikalongwetan, Selasa (14/04/2026), terasa hangat namun penuh keseriusan. Sejumlah unsur pimpinan kecamatan, aparat keamanan, kepala desa, hingga perwakilan sekolah berkumpul dalam satu forum untuk membahas hal yang sama: bagaimana memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Rapat analisis dan evaluasi ini bukan sekadar agenda rutin. Di baliknya, tersimpan harapan besar agar program nasional tersebut mampu menjangkau lebih banyak anak dan memberikan dampak nyata terhadap kesehatan serta proses belajar mereka di sekolah.
Camat Cikalongwetan, H. Dadang A. Sapardan, menegaskan bahwa evaluasi seperti ini tidak boleh dianggap formalitas. Ia ingin program MBG terus dipantau dan diperbaiki secara berkala.
“Minimal setiap tiga bulan kita evaluasi bersama. Kita ingin memastikan program ini tidak hanya berjalan, tapi juga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Bagi Dadang, MBG bukan sekadar urusan menyediakan makanan. Lebih dari itu, program ini adalah bagian dari upaya besar membangun generasi yang sehat, kuat, dan cerdas. Karena itu, kualitas makanan, keamanan pangan, hingga ketepatan sasaran harus terus dijaga.

Namun di lapangan, masih ada tantangan yang perlu diselesaikan. Salah satunya soal distribusi dapur MBG yang belum merata. Ada wilayah yang dapurnya sudah kelebihan kapasitas, sementara desa lain justru belum memiliki fasilitas serupa.
Kondisi ini, menurut Dadang, perlu disiasati dengan koordinasi yang lebih baik antarwilayah. Ia berharap dapur yang sudah tersedia bisa dimanfaatkan bersama agar layanan tidak terpusat di satu titik saja.
Di sisi lain, pelaksanaan MBG juga diharapkan tidak berhenti pada aspek pemenuhan gizi. Program ini dinilai bisa menjadi sarana pembentukan karakter siswa. Kebiasaan sederhana seperti berdoa sebelum makan, mengambil makanan secukupnya, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekolah menjadi bagian penting yang ingin ditanamkan.
Kapolsek Cikalongwetan, AKP Deden Indrajaya, dalam kesempatan yang sama mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Ia menekankan pentingnya keterlibatan semua unsur, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga masyarakat.
“Harus ada kesamaan persepsi. Jangan sampai di lapangan terjadi salah paham atau saling menunggu. Semua punya peran,” katanya.
Sebagai langkah penguatan, ia juga mendorong pembentukan satuan tugas di setiap wilayah untuk membantu pengawasan sekaligus mencegah potensi penyimpangan.
Senada dengan itu, Danramil Cikalongwetan, Kapten Inf Yudi Komara, menilai bahwa laporan saja tidak cukup untuk memahami kondisi di lapangan. Ia menekankan pentingnya turun langsung agar setiap persoalan bisa dilihat secara nyata.
“Kita harus melihat sendiri kondisi di lapangan, supaya solusi yang diambil tidak keliru,” ujarnya.
Dari sisi pelaksana, Koordinator SPPG Kecamatan Cikalongwetan, Abdilah Abdi Natanegara, mengungkapkan bahwa program MBG melibatkan banyak pihak, dari tingkat pusat hingga desa. Namun, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan, terutama dalam menjaga koordinasi dan komunikasi di lapangan.
Meski begitu, hasil yang dicapai sejauh ini cukup menggembirakan. Dari 3.316 responden di 13 desa dan 19 SPPG, sebagian besar menyatakan cukup puas terhadap program ini. Mereka merasakan manfaat, terutama dari sisi kecukupan porsi dan peningkatan stamina, meskipun masih ada catatan pada variasi menu dan kualitas rasa yang perlu ditingkatkan.
Evaluasi juga tidak berhenti pada tingkat kepuasan. Sejak Agustus 2025, pengukuran antropometri mulai dilakukan untuk melihat dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan anak. Selain itu, perubahan pada kehadiran dan konsentrasi belajar siswa juga menjadi perhatian penting.
Semua pihak yang hadir sepakat bahwa program ini harus terus diperbaiki. Koordinasi akan diperkuat, pengawasan ditingkatkan, dan masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi ke depan.
Harapannya sederhana namun besar: program MBG tidak hanya hadir sebagai kebijakan, tetapi benar-benar menjadi solusi dalam membentuk generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan.
“Ini kerja bersama. Kalau kita serius menjaganya, manfaatnya akan terasa besar bagi anak-anak kita,” pungkas Dadang.
(Dion)



Komentar