Oleh: Dinn Wahyudin
Terangnews.my.id / Ketika diminta menjadi narasumber dalam Webinar Pendidikan Palestina bertema “Dari Empati ke Aksi Nyata”, saya menerimanya dengan penuh suka cita. Permintaan tersebut bukan sekadar undangan akademik, melainkan panggilan nurani untuk membahas satu isu penting: bagaimana pendidikan, melalui kurikulum dan pembelajaran, dapat menumbuhkan kesadaran kemanusiaan generasi muda Indonesia terhadap tragedi Palestina.
Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa Palestina perlu hadir secara bermakna dalam dunia pendidikan kita.
Belajar Palestina Bukan Sekadar Pengetahuan
Pertama, pembelajaran tentang Palestina tidak boleh berhenti pada penambahan pengetahuan faktual. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu menanamkan nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian global.
Di tengah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza dan wilayah Palestina lainnya, generasi muda perlu dibimbing agar peka terhadap penderitaan sesama manusia, di mana pun mereka berada.
Palestina, Negeri Para Nabi dan Peradaban
Kedua, Palestina memiliki kedudukan historis dan spiritual yang istimewa. Ia dikenal sebagai negeri para nabi, tempat lahir, tinggal, dan dimakamkannya banyak utusan Allah yang di antaranya Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, hingga Nabi Isa AS.
Palestina juga menjadi saksi peristiwa agung Isra Mi’raj, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Masjidil Aqsa bukan hanya situs sejarah, tetapi juga simbol keimanan dan peradaban Islam yang patut dijaga dan dirawat bersama.
Tragedi Gaza: Musibah Kemanusiaan Global
Ketiga, tragedi Gaza dan Palestina merupakan salah satu krisis kemanusiaan paling memilukan di era modern. Konflik berkepanjangan sejak awal abad ke-20, dimulai dari Deklarasi Balfour, pembagian wilayah oleh PBB tahun 1947, hingga perang dan pendudukan, telah melahirkan jutaan pengungsi dan penderitaan berkepanjangan.
Hari ini, jutaan rakyat Palestina hidup dalam keterbatasan akses terhadap pangan, kesehatan, dan pendidikan. Data UNICEF menunjukkan ratusan ribu anak usia sekolah kehilangan hak belajar selama bertahun-tahun. Ini bukan sekadar konflik politik, melainkan kejahatan kemanusiaan yang kompleks.
Pendidikan Palestina untuk Generasi Muda Indonesia
Dalam konteks Indonesia, pendidikan tentang Palestina perlu ditempatkan secara proporsional, edukatif, dan humanis. Tujuannya bukan mengajarkan kebencian atau konflik geopolitik, melainkan menanamkan nilai kemanusiaan, keadaban global, dan tanggung jawab sebagai warga dunia.
Hal ini sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 dan UU Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya mencerdaskan bangsa, tetapi juga ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Sebagai pendidik, penting untuk menegaskan bahwa:
“Kita tidak sedang mengajarkan konflik politik, melainkan menanamkan empati dan nilai kemanusiaan universal.” Kurikulum yang Aman, Bermakna, dan Relevan
Pembelajaran tentang Palestina dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran seperti:
PPKn: kemanusiaan yang adil dan beradab
IPS: isu global dan solidaritas
PAI: iman, kasih sayang, dan akhlak sosial
Bahasa Indonesia: refleksi dan narasi empatik
Pendekatannya perlu kultural-historis, bukan doktrinal atau provokatif. Bahasa yang digunakan harus pedagogis, berorientasi pada nilai:
kemanusiaan
hak asasi manusia
empati sosial
pendidikan damai (peace education)
Sebaliknya, ungkapan bernuansa permusuhan, balas dendam, atau agitasi sebaiknya dihindari.
Dari Empati ke Aksi Nyata
Empati perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata yang aman secara pedagogis dan non-politis, seperti:
literasi kemanusiaan
penggalangan donasi melalui lembaga resmi
proyek sosial sekolah
kampanye damai tanpa simbol provokatif
Sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran yang menumbuhkan kepedulian, bukan kebencian; kesadaran, bukan permusuhan.
Penutup
Palestina adalah isu kemanusiaan global. Melalui kurikulum dan pembelajaran yang tepat, pendidikan dapat menjadi jalan damai untuk membentuk generasi muda Indonesia yang beriman, berakhlak, berpikir kritis, dan memiliki empati global.
Pendidikan bukan alat konflik, melainkan jembatan kemanusiaan.
Semoga bermanfaat.


Komentar