Terangnews.my.id / Kabupaten Bandung Barat – Dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, masyarakat Desa Nyenang, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menggelar Kirab Budaya Papajar sebagai tradisi tahunan yang sarat nilai religius, budaya, dan kebersamaan, pada Selasa, (17/2/2026). Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Kampung Cijambe RT 03/RW 04, tepatnya di Warung Kuliner Taraga Rasa.
Sejak pagi hari, ratusan warga dari berbagai unsur masyarakat tampak memadati lokasi kegiatan. Dengan mengenakan busana adat dan pakaian muslim, peserta kirab berjalan bersama sambil membawa hasil bumi dan berbagai simbol budaya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan serta sebagai persiapan batin dalam menyambut bulan suci.
Kirab Budaya Papajar merupakan tradisi tahunan yang digagas oleh para tokoh budaya se-Desa Nyenang. Tradisi ini secara resmi dikukuhkan pada tahun 2010 oleh Bupati Bandung Barat saat itu, almarhum Abu Bakar. Sejak dikukuhkan, Papajar menjadi agenda budaya rutin yang terus dilestarikan oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas kearifan lokal Desa Nyenang.
Secara filosofis, Papajar memiliki makna sebagai ajang “papajar” atau pemberitahuan dan pengingat kepada masyarakat bahwa Bulan Suci Ramadan akan segera tiba. Tradisi ini juga menjadi momentum untuk saling memaafkan, mempererat tali silaturahmi, serta memperkuat kebersamaan antar warga tanpa memandang latar belakang sosial maupun golongan.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) se-Desa Nyenang, Pemerintah Desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur pemuda, serta dihadiri Forkopimcam Cipeundeuy. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang berpadu dengan nilai-nilai keagamaan.
Selain kirab budaya, rangkaian acara juga diisi dengan doa bersama, tausiyah singkat menjelang Ramadan, serta ramah tamah antar warga. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Masyarakat tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara hingga selesai.
Kepala Desa Nyenang, Wawan Saputra, S.IP, dalam sambutannya menegaskan bahwa Kirab Budaya Papajar bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan simbol kuatnya persatuan dan nilai gotong royong masyarakat.
“Kirab Budaya Papajar ini adalah warisan budaya yang harus terus kita jaga dan lestarikan. Selain sebagai ungkapan rasa syukur menyambut Bulan Suci Ramadan, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan, persatuan, dan nilai gotong royong masyarakat Desa Nyenang,” ujar Wawan Saputra.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh budaya, tokoh agama, LKD, serta masyarakat yang konsisten menjaga tradisi ini sejak dikukuhkan pada 2010 silam.
“Pemerintah Desa akan terus mendukung kegiatan budaya seperti ini, karena budaya adalah identitas kita. Ketika budaya dan nilai religius berjalan seiring, maka insyaallah masyarakat akan semakin harmonis dan Desa Nyenang akan semakin maju,” tambahnya.
Kirab Budaya Papajar menjadi bukti bahwa masyarakat Desa Nyenang mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi leluhur dan penguatan nilai spiritual. Di tengah arus modernisasi, semangat mempertahankan budaya lokal tetap tumbuh dan diwariskan kepada generasi muda.
Dengan terselenggaranya Kirab Budaya Papajar tahun ini, diharapkan masyarakat Desa Nyenang dapat menyambut Ramadan 1447 H dengan hati yang bersih, penuh keikhlasan, serta semangat memperbanyak amal ibadah.
Momentum ini sekaligus menjadi refleksi bersama untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan membangun kehidupan sosial yang lebih rukun, religius, dan sejahtera di Kabupaten Bandung Barat.
Red


Komentar