Terangnews.my.id / Kabupaten Bandung Barat – Upaya membangun budaya literasi di pedesaan masih menghadapi tantangan mendasar. Salah satunya adalah kuatnya tradisi budaya lisan yang telah hidup dan mengakar dalam masyarakat selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Hal tersebut disampaikan Camat Cikalongwetan, Dadang A. Sapardan, saat menjadi pembicara dalam gelar wicara bertema Solusi Literasi Pedesaan yang berlangsung di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Jumat (13/02/2026).
Menurut Dadang, budaya lisan bukan sesuatu yang negatif. Namun dalam konteks penguatan literasi baca-tulis, dominasi tradisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pegiat literasi.
“Budaya lisan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita. Ini yang menjadi tantangan dalam membangun budaya literasi,” ujarnya.
Kegiatan diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Hajatan Duren-keun dan Pameran Buku yang digelar oleh Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Kabupaten Bandung Barat bersama sejumlah mitra.
Tiga Prinsip Penguatan Literasi
Dalam paparannya, Dadang menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam memajukan literasi. Ia menyebut, terdapat tiga prinsip yang harus dijalankan secara kolektif, yakni berkesinambungan, terintegrasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Gerakan literasi, menurutnya, tidak bisa bersifat seremonial atau sesaat. Program harus dirancang berkelanjutan serta saling terhubung antar-sektor.
“Pemajuan literasi harus dilakukan secara konsisten dan melibatkan semua unsur, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga keluarga,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat literasi keluarga dan masyarakat. Meski literasi sekolah dinilai sudah cukup progresif, namun ruang keluarga dan lingkungan sosial masih memerlukan perhatian lebih.
Literasi di Era Digital
Lebih jauh, Dadang mengingatkan bahwa makna literasi kini telah meluas. Tidak lagi terbatas pada membaca buku cetak, literasi juga mencakup kemampuan memahami dan menyaring informasi dari berbagai platform digital.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan memilah konten menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki masyarakat.
“Masyarakat harus memiliki kemampuan menilai dan menyaring bacaan di media digital agar tidak terpapar informasi yang tidak bermanfaat,” pungkasnya.
Hajatan Duren-keun sendiri berlangsung pada 11–17 Februari 2026 di Bale Pare Kota Baru Parahyangan. Selain diskusi literasi, kegiatan ini diramaikan dengan pesta makan durian, pameran buku, bedah buku, musikalisasi puisi, klinik bisnis, hingga pertunjukan musik.
Dalam gelar wicara tersebut turut hadir Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bandung Barat Hery Pratomo serta Ketua Forum TBM Bandung Barat Herdi Sardi, yang masing-masing menyampaikan pandangan dan strategi penguatan literasi di wilayah pedesaan./Red


Komentar